Memetik Hidayah

Memetik Hidayah

Bismillahirrahmanirrohim. 

Aku berlindung kepada Allah dari iblis, setan, dan pengikutnya, yang terkutuk, semoga Rahmat Allah senantiasa tercurah untuk kita semua, Aamiin.

Sahabat pembaca dimanapun sekarang berada, marilah kita bersama meminta kepada Allah atau Tuhan kita masing-masing, untuk senantiasa melembutkan hati kita, sebagaimana kita ketahui iblis dan pengikutnya tidak akan pernah berhenti mencoba merusak dan menghancurkan hidup kita dari segala sisi yang mereka punya. 

Mengapa saya menyarankan agar sahabat semua meminta dilembutkan hatinya? Sungguh dengan hati yang lembut itu kita bisa melihat Keagungan Allah, Tuhan semesta alam, dengan hati yang lembut kita senantiasa akan bersyukur dengan semua nikmat yang diberikan-Nya. 

Sebelum kita lanjutkan artikel ini, saya ingin berterima kasih kepada sahabat-sahabat saya yang tergabung dalam grup perjuangan berhenti merokok di WA, grup “Cold Turkey” yang terbentuk pada tanggal 19 juni 2018, anda-anda semua telah sudi menjadi teman sekaligus sahabat berbagi, ketika saya mengalami banyak kesakitan salah satunya diakibatkan berhenti merokok. 

Selama rentang waktu menjadi pesakitan itu, banyak hal yang telah berubah dalam hidup saya, saya berharap persahabatan yang terbentuk meski kita semua belum pernah saling bersua, membuat kita semakin kuat menapak jalan kedepan yang sama-sama masih harus kita lalui, terlebih semenjak kita telah menjadi diri kita yang baru (Mantan perokok). 

Saya berlindung kepada Allah, semoga tulisan ini tidak membawa keburukan untuk kita semua, dan ini sebagai bentuk penghargaan saya kepada semua sahabat-sahabat pejuang “Cold Turkey”, yang berasal dari berbagai bangsa yang bebeda, suku yang berbeda, bahasa yang berbeda, keyakinan yang berbeda, dan semua hal yang menjadi perbedaan diantara kita semua, meski kita belum pernah bersua, namun kita dipertemukan oleh nasib yang sama, yakni menjadi pesakitan sebagai salah satu akibat dari berhenti merokok. 

Saat menulis artikel ini saya ditemani alunan Murrotal Surah Ali-imran yang di lantunkan oleh ustadz Abdul Qodir, tidak saya pungkiri air mata saya terus mengalir mendengar ayat demi ayat yang beliau bacakan, saya akui semenjak berhenti merokok, saya mengalami kejiwaan yang tragis karenanya, hati saya mudah sekali sedih.


Sebagaimana yang pernah di katakan juragan Wibowo Dlb Sf dalam chatingan grup cold turkey “welcome to the Lebay Community”, pendapat itu senada dengan yang pernah diucapkan istri saya, kalau saya sekarang lebih banyak lebaynya. 

Pendapat senada soal lebay ini juga banyak dilontarkan oleh teman-teman lainnya di grup tersebut, ya mengapa sekarang saya seolah sering mengeluhkan hal-hal kecil yang sepatutnya bisa di diamkan, barangkali itulah salah satu pengaruh berhenti dari merokok itu sendiri. 

Menyusuri jejak selama berhenti merokok banyak hal menarik yang barangkali bisa kita rekam, karena tidak merokok bukan saja soal menghilangkan suatu kebiasaan, tapi juga menempuh suatu pengalaman Spritual yang sukar untuk di terjemahkan, namun terasa nyata dalam jiwa. 

Saya tidak ingin pengalaman seperti ini menguap begitu saja, lalu besoknya kita lupa terhadap perubahan yang telah kita lalui, khususnya terkait berhenti merokok. 

Pada suatu pagi ketika masih tahap awal berhenti merokok, adalah saat pertama kali saya merasakan pandangan nanar sepanjang waktu, hari itulah saya merenungkan diri lebih dalam, inikah yang disebut pintu kematian, pada saat itu saya mengalami ketakutan yang sulit untuk dilukiskan, ketakutan yang sangat nyata tentang apa saja yang terjadi disepanjang hari. 

Ketakutan seperti itu juga dialami oleh sebahagian sahabat-sahabat di grup Cold Turkey, salah satu ketakutan saya adalah takut mati dan takut terkena penyakit berbahaya, kemudian saya coba menelusuri kembali jejak hidup saya, mulai dari moment-moment berharga sampai ke detik saya berhenti merokok. 

Kehidupan saya sebelumnya jauh dari nuansa rohani, ketika mengalami perasaan takut mati, saya coba tata ulang kembali, membangun kembali puing-puing rohani yang sudah pecah dalam waktu yang cukup lama, dan bayangan kematian seakan semakin dekat, saya merasa waktu tidak cukup untuk bertaubat. 

Siang ketika hati dalam suasana nelangsa, saya baca-baca kembali chatingan keluhan dan motivasi yang ada di grup dan di trit “Cold Turkey” di kaskus, rerata mereka yang menulis mengakui kehidupan mereka berubah, barangkali yang mereka maksud adalah kehidupan kejiwaan mereka, sekarang mereka semakin dekat dengan ibadah kepada Tuhannya. 

Lalu saya juga mencoba berkaca, sebelum berhenti merokok betapa banyaknya ujian hidup yang sudah saya lalui, namun pada semua ujian itu belum terketuk pintu hati saya untuk menyembah kepada Allah semata, sebelumnya saya menyembah uang, kekayaan, jabatan, dan kerakusan duniawi lainnya. 

Semenjak berhenti merokok merasakan sakit dan mengalami ketakutan jiwa akan kematian, saya mulai mengerjakan sholat, mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah-ibadah wajib dan sunnah lainnya. Saya teringat pada suatu kali juragan Wibowo Dlb Sf pernah menuliskan “Itulah yang disebut hidayah gan … kita harus bangga bahwa hidayah itu jatuh ke diri kita”, demikian juga halnya dengan juragan Felix, Iman Sudrajat, dan A Burhan Pramono yang mengaku banyak hal yang berubah dalam hidupnya. 

Dalam kehidupan ini barangkali Allah senantiasa memberikan hidayahnya kepada setiap hambanya, hanya saja tidak setiap hambanya yang mau dan sudi mengambil hidayah itu, sebagaimana diri saya sendiri sebelum berhenti merokok, hidup berantakan, sehingga bagitu mudah kemaksiatan datang dan membuat kita selalu berada dalam kesesatan dan kekeringan jiwa yang akut. 

Sahabat pembaca, apapun keyakinan anda, marilah kita bersama-sama menjadikan peristiwa siksaan berhenti merokok ini, sebagai suatu pintu untuk kita memasuki kehidupan yang lebih indah lagi, dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta kita. 

Sedari dulu barangkali Kita merindukan kehidupan yang tenang, damai dan bahagia, namun dalam pada itu tanpa kita sadari kita pernah merusaknya dengan berbatang rokok, dan betapa banyaknya korban rokok yang juga tidak terselamatkan nyawanya, setelah mengalami berbagai penyakit berbahaya akibat rokok, bahkan juragan Felix sendiri pernah mengakui lebih menyiksa kehilangan nikotin atau Tar rokok daripada putus narkoba, sekarang baru kita sadar ternyata “Tuhan 9 cm” Taufik Ismail itu lebih merusak kita daripada narkoba yang berbahaya sekalipun. 

Sekarang saya bahkan mungkin sahabat juga, sedang bergerak menuju hari-hari yang seharusnya indah, karena sudah terlepas diri dari belenggu jahannam rokok, namun dalam melaluinya saya tetap menyimpan kecemasan-kecemasan kecil, tentang berbagai hal terkait penyakit yang disebabkan rokok, untuk itu sahabat saya memetik hidayah ini. 

Saya ingin disisa hidup ini memiliki bekal yang akan saya bawa menuju alam akhirat nanti, selagi Allah memberikan kesempatan untuk kita, ambillah hidayah itu sahabat, dekatkan kembali dirimu kepada Sang Pengatur hidup ini Allah SWT. 

Ketika sahabat merasa sedih atau menangis melihat sesuatu atau mengalami sesuatu, yakinlah hal itu bukanlah suatu sikap lebay, namun suatu peristiwa indah yang sedang menyelimuti hati kita, dan mengajak kita untuk tunduk dan semakin tunduk kepada Sang Pencipta kita, dengan cara itu pula hati kita dilembutkan dan diajak kembali untuk patuh kepada-Nya. 

Saya terkesan dengan agan Patul RC yang selalu optimis mengajak kita-kita semua yang ada di grup “Cold Turkey” untuk menenangkan hati, karena hati menjadi pangkal masalah terkait naiknya asam lambung, maka credit yang tidak terhingga untuk agan Patul RC. 

Dalam bulan ke 8 berhenti merokok, ketika “ hati dilembutkan” itu saya jarang mengalami sakit yang disebabkan asam lambung, seperti dada yang nyeri dan lain sebagainya, setiap kelembutan hati itu datang, saya biarkan dia mengisi segenap jiwa, apa tandanya kelembutan hati itu datang? Yakni ketika saya melihat atau mengalami sesuatu kemudian saya merasa sedih, bahkan sampai meneteskan air mata. 

Ketika saya mendengar atau menonton suatu kemudian hati saya merasa iba, saya biarkan air mata mengalir, tidak saya bendung dengan pikiran apapun, saya biarkan saja. Apalagi ketika mendengarkan lantunan bacaan Al-Quran, saya biarkan mata ini menangis meski ditempat keramaian, dengan cara begitu saya percaya hati saya sedang dilunakkan. 

Ketika saya mendapati situasi yang rumit dalam keluarga saya, seperti kelakuan anak-anak yang bisa membuat kita marah dan jengkel, sekarang saya lapangkan hati, sabarkan diri sehingga kelembutan hati itu tetap terjaga, setiap dalam sujud saya selalu meminta kepada Allah agar diberi kelapangan hati. 

Meminjam lagi istilah yang dikatakan agan Wibowo Dlb Sf, “berubah kearah yang lebih baik gan … kita ini orang-orang pilihan lho …”, inilah salah satunya yang membuat saya bangga dengan kita-kita semua yang ada di grup “Cold Turkey” dan berjuang untuk tidak merokok setiap harinya. 

Masih seperti yang dituliskan agan Wibowo Dlb Sf tentang hidayah ini, “Itulah yang disebut hidayah gan… kita harus bangga bahwa hidayah ini jatuh ke diri kita”, terus terang saya merasa bangga, hidayah itu datang melalui cara yang tidak kita duga, yakni melalui cara berhenti merokok, meski demikian bagi saya hidayah itu tetap mahal, sehingga saya akan rugi ketika dia datang dan saya tidak mengambilnya. 

Dimana letak mahalnya hidayah itu? Seandainya saya tidak merokok sebelum ini, barangkali tidak terbayangkan bagaimana caranya Allah mengajak saya kembali menyembah kepada-Nya, dan merokok itu sudah menghabiskan keuangan saya puluhan juta dimulai dari bungkusan pertama sampai akhirnya saya berhenti menghisap si jahannam 9 cm itu. 

Sahabat pembaca, setelah kita meminta kelembutan hati ini, saya berharap berikutnya kita akan sampai kepada level yang lebih mulia di sisi Allah yakni “Wahai jiwa yang tenang”. 

“Cold Turkey” Mereka yang berjuang keluar dari belenggu rokok – Keep Fight
Memetik Hidayah
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Note: only a member of this blog may post a comment.