Menjual Es Cendol di Neraka

Menjual Es Cendol di Neraka

Panas bagaikan dioven, suhu kota metropolitan terbesar nomor dua layaknya di timur tengah, mencuci baju disore hari tak harus menunggu untuk kering ketika dijemur dikeesokan harinya, waktu seakan cepat berlalu masjid-masjid megah bak istana sang raja sulaiman bergaung keras dengan menara menjulang tinggi, siang itu, televisi dihidupkan, satu keluarga menyaksikan acara "bekal sebelum ajal", mantan seorang penodong yang hijrah, dikafani hidup-hidup dikubur guna merasakan seperti apa mayat yang ditanyai diliang lahat oleh dua orang malaikat. 

Kipas angin berputar kencang bergeleng kekanan dan kekiri meniup setiap sudut tempat, bapak dan anaknya melepas baju, berkeringat deras layaknya butiran jagung keluar dari dalam pori-pori, menghela nafas dan mengelap dahi ditemani cemilan kerupuk yang sudah lunak tak berbunyi. 

Penjual es cendol dan dawet kala itu diborong habis warga setempat, sempat pula merenung bagaimana kalau besok berjualan es saja, aku tanya bila pendapatan bersih mencapai ratusan ribu rupiah pada setiap pedagang. pemandangan yang sudah tak lazim lagi disemua tempat, aku mengkhayal suatu saat nanti dineraka pun bila ada malaikat menjual es pasti banyak yang beli, bahkan mungkin berlarian dan berteriak pontang- panting "panas! Panas!" Karena fokus pada apa yang dirasakan, heran juga, aku pun berfikir kenapa setiap orang kepanasan selalu berteriak panas atau minta tolong, kenapa tidak istighfar saja, ya mungkin kalimat itu hanya berfungsi di dunia tidak demikian dengan akhirat. 

Para pelanggan langganannya pun para koruptor yang dengan uangnya penjara pun bisa dibeli didunia semasa hidupnya, dengan fasilitas yang memadahi, hotel prodeo laksana hotel berbintang lima, tak lupa pula dilengkapi dengan pelayanan plus-plus wanita-wanita cantik bebody aduhai, tapi sepertinya tidak demikian, es dan wanita cantik serta hotel itu mungkin hanya untuk orang-orang yang beramal soleh yang bertobat dari yang demikian, alamat dan gerbangnya pun berbeda dengan neraka, "jadi bagaimana penjual es didunia, pasti mereka sudah bosan mencicipinya nanti kalau masuk surga", pikir ku konyol. 

Lalu siang itu ku putuskan mandi agar segar dan lebih bertenaga untuk berputar keliling kota dengan motor astrea tahun 80an yang ditawar dengan harga 7 juta oleh tetangga dekat saudaraku, tapi ujung-ujungnya hanya basa-basi belaka. sudah 2 jam hanya sibuk bertanya dan mencari jalan pulang, berputar-putar dipemukiman rumah petak yang rungkut dan terpencil, tak tau lokasi yang dituju karena tujuannya pun tak jelas, memang panas sekali ketika itu, ubun-ubun pun berdenyut, lalu ku putuskan duduk di pinggir jalan ditemani ahli surga yang berjasa menjual minuman dingin bagi orang yang sedang kepanasan, "semoga masuk surga firdaus" harapku padanya. 

Catatan : Krisnanto Adi Sulaksono

Menjual Es Cendol di Neraka
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Note: only a member of this blog may post a comment.