Kota Beritme Melankolia Gado-gado

Kota Beritme Melankolia Gado-gado

Terasa jelas suara teriakan bocah berlarian, kejar-kejaran diarah jalan raya ketika itu, ku tutup pintu WC sambil diiringi irama air mendayu memberi nada yang menenangkan dan khusu' dalam sebuah ritual membuang hajat, membayangkan dulu sering sekali menghisap sebatang rokok dengan kenikmatan 27 drajat layaknya keutamaan sholat berjamaah, berapa antrian menunggu berdehem dan bersiul isyarat bahwa mereka rela menunggu lama untuk satu misi yang sama guna kemaslahatan umat. 

Kurang lebih 10 menit terasa hanya sekejap mata keluar dari surga yang tak diakui keberadaannya ini, mungkin bila diberi kekenyangan perut pasti nanti akan kemari lagi, ku putuskan keluar dan menatap mereka dengan senyuman lega hingga ku melihat ekspresi wajah-wajah manusia layaknya emotikon pada aplikasi Whatapps dengan bermacam varian rasa dan bentuk raut muka lucu hingga menakutkan. 

Sepulangnya, ku duduk santai di teras rumah petak yang kecil penuh dengan barisan tembok yang rapat sambil mendengarkan suara para pengamen jalanan menyanyikan lagu yang masih populer ketika itu, "ku yang dulu bukanlah yang sekarang dulu ditendang sekarang ku disayang" dengan diakhir "bukak sitik jos!", bertepuk tangan para golongan masyarakat dari yang menengah keatas hingga menengah kebawah memberikan apresiasi dan sumbangsihnya untuk sebuah keberanian seorang anak yang seharusnya sekolah kala itu. 

Alunan musik pelosok pinggiran kota yang terdengar itu pun dibawa pergi sang angin lalu yang melintas berganti dengan bunyi-bunyian kelakson kendaraan dan sirine merah menyala petugas patroli, semoga tak terjadi apa-apa, ketika itu malam minggu, malam dimana anak muda bercengkraman dan bercumbu mesra menghabiskan masa produktifnya guna kesenangan sesaat menjadi antek-antek kehidupan gelamor layaknya vampire yang tiap malam haus darah. 

Lain halnya yang ada dalam kardus, kedinginan, kelaparan, namun tak merasa bimbang mereka sudah kebal dengan kerasnya jalanan, merekalah kerak terbawah dari sosial dengan hati layaknya intan berlian, sufi jalanan bila ku artikan, tak diabaikan tak dipandang, menjerit dan menangis pun tak ada yang peduli, mereka butuh pelukan seorang yang mengerti mereka. 

Berfikir dan merasa dengan hati agar bisa melihat keadilan, apakah benar begini atau ini muka dari kota sebenarnya, kota yang penuh bau keringat manusia menaklukkan nasib mereka yang akhirnya berhenti dan menjumpai kesialan atau keberuntungannya sendiri, kota yang mana orang-orang tak pernah bertegur sapa tapi bahagia, masjid berjalan meminta sumbangan layaknya pengemis ditiap rumah, perempuan berteriak meminta tagihan listriknya agar dibayarkan suami yang beberapa waktu lalu berhenti bekerja, WC umum yang pagi hingga malam penuh dengan antrian dengan raut muka kejujuran, pengamen dan tuna wisma berhati murni hingga pemuda-pemudi bergaya begal dan wanita nakal bermandikan alkohol dan wewangian menggoda para konglomerat yang jenuh dengan pekerjaan yang seharian mereka kerjakan, yah ujung-ujungnya membuat alasan memperjuangkan karyawannya agar tetap bekerja, begitu pun pejabat dan orang-orang penting dijajaran pemuka yang disegani akan karisma dan tutur katanya. 

Catatan : Krisnanto Adi Sulaksono

Kota Beritme Melankolia Gado-gado
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Note: only a member of this blog may post a comment.