Solusinya Menambang Emas Dengan Tidak Merusak Sungai

Solusinya Menambang Emas Dengan Tidak Merusak Sungai

Kampung kelahiran saya Dharmasraya, sahabat pembaca barangkali tidak begitu popular dengan nama itu, letaknya tepat di tengah-tengah pulau sumatera, sekarang dikenal baik dengan nama Kabupaten Dharmasraya. 

Kabupaten yang tidak terlalu luas ini jika kita berani berhitung, sekarang ini lebih banyak di monopoli oleh pohon sawit dan karet dibanding hutan liar, mulai dari ujung keujung semua lahannya sudah di kuasai oleh perkebunan sawit dan karet. 

Daerah yang kaya dengan berbagai hal itu, memang menuntut penghuninya juga harus bijak dalam mengelolanya, dan malangnya ketika perekonomian di monopoli oleh perusahaan, masyarakat tidak punya pilihan yang banyak untuk mencari penghidupan dan menambah penghasilan. 

Kata kawan saya di pulau jawa sana, ketika harga komoditi perkebunan naik, maka semakin ramai orang berbelanja di pasar. 

Dharmasraya kampung saya, punya pilihan mata pencaharian lain selain menjadi buruh di kebun sawit atau karet orang, salah satunya emas, untuk pilihan yang satu ini sebenarnya sudah terkenal sangat lama sekali, namun tidak begitu besar gaungnya karena sulit di telusuri jejaknya. 

Masa kecil saya dulu (sekitar tahun 1990) kami selalu mandi disungai, rerata orang satu kampung kalau urusan air ini pasti perginya kesungai, mau berak ke sungai juga, mau mencuci ke sungai juga, mau menangkap ikan ke sungai juga. 

Pokoknya kehidupan masyarakat sangat tergantung pada sungai, dan sungai memiliki peran yang sangat besar bagi budaya masyarakat koto baru tempat saya di lahirkan, apakah kala itu belum ada penambang emas, jawabannya sudah ada. 

Memasuki zaman milenia 2000 mulailah tampak gelagat yang tidak baik dari dalam sungai-sungai ini, saya masih ingat betul waktu itu kami yang masih beranjak remaja, dilarang para tetua kampung mandi disungai, karena airnya tidak lagi jernih bening seperti mana masa kecil kami dulu. 

Sungai berkelok-kelok yang membelah perkampungan itu tiba-tiba saja berubah warna seperti susu kuning, namun tidak kental tapi bau keruh, itulah pertanda para penambang emasnya bukan lagi masyarakat kampung Dharmasraya saja. 

Solusinya Menambang Emas Dengan Tidak Merusak Sungai
(Ibu penambang emas di Dharmasraya)
Ternyata benar, mulai dari mana-mana bagian sungai orang-orang berdatangan terutama dari jawa, masyarakat dharmasraya menyebutnya dengan istilah jawa pati, karena rerata orangnya berasal dari daerah pati, meski pada kenyataannya banyak juga orang dari daerah lain. 

Penambangan emas dalam jumlah besar ini melibatkan investor siluman, kok bisa begitu, bagaimana tidak, orang kampung yang jelas-jelas pada mulanya hidup biasa saja, tiba-tiba menjadi kaya mendadak, punya mobil dan yang paling mengejutkan punya mesin excavator, dimana dengan mesin ini sungai-sungai mulai di bongkar. 

Perahu-perahu penghisap lumpur bertebaran disepanjang sungai, bekerja siang malam tanpa henti menghisap menyaring dan membuang lumpur, maka dari itu kami yang sedang beranjak remaja mulai paham, itu pula sebabnya sungai sebagai bagian dari budaya masyarakat Dharmasraya perlahan-lahan musnah. 

Lalu bagaimana sebaiknya win win solusi untuk kasus pencemaran sungai tersebut, jawabannya tidak lain dan bukan adalah kembali menggunakan dulang sebagai alat penambang emas, meski sebenarnya tetap juga tidak ramah terhadap sungai, namun paling tidak alat dulang ini tidak merusak sungai dalam bentuk yang jahat. 

Kerusakan sungai batang hari sekarang sudah bisa disaksikan oleh setiap manusia yang menyeberangi jembatan pulau punjung, disana terdapat kerakusan manusia yang menjarahnya. 

Solusi dengan alat dulang ini barangkali akan menjadi cemooh bagi konglomerat dadakan penambang emas, namun ini merupakan pilihan yang cukup bijak, jika ingin tetap meraup untung dari logam mulia itu, dengan demikian budaya masyarakat kembali hidup. 

Waktu saya masih kecil suatu ketika saya pergi ke pasar pulau punjung, saya masih menemukan pedagang-pedagang berperahu yang membawa hasil bumi dari Solok Selatan dan pulau temiang (daerah tetangga), namun sekarang jarang sekali ditemukan pedagang antar daerah yang menggunakan perahu sebagai alat transportasinya. 

Jika bupati Dharmasraya saat ini (2018) Sutan Riska Tuanku Kerajaan membaca tulisan ini, tolong pikirkan kembali dan berbuat sesuatu demi kebaikan generasi dharmasraya berikutnya, bagitu banyaknya budaya masyarakat Dharmasraya yang hilang, akibat kerakusan lahan yang sedang terjadi di Kabupaten Dharmasraya, baik itu disungai maupun di darat.
Solusinya Menambang Emas Dengan Tidak Merusak Sungai
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Note: only a member of this blog may post a comment.