Kejadian Sebelum Saya Berhenti Merokok Secara Autodidak

Kejadian Sebelum Saya Berhenti Merokok Secara Autodidak

Aduhai amboi betul rasanya berhenti merokok, hari ke hari siksa dan sukanya betul-betul komplit, kalau sebagian orang yang pernah melalui perjuangan berhenti merokok, barangkali tidak akan terlalu siksa rasanya, tapi tidak dengan saya, saya merasakan hari-hari yang berat. 

Perjuangan berhenti merokok ini sebenarnya sudah berkali-kali, namun sejauh ini ini adalah hari terlama saya tidak merokok dalam hidup ini, yaitu selama 40 hari, sebelumnya berkali-kali jatuh bangun berhenti merokok, untuk lebih jelasnya kita rinci sebagai berikut. 

13 februari 2018, adalah momentum pertama saya berhenti merokok, karena gejala aneh yang kemudian di vonis dokter sebagai maag, dan dokter resepkan obat. 

Setelah tanggal 13 februari 2018 tersebut, selama 3 hari saya tidak merokok, hal itu bukan karena saya tidak ingin merokok, tapi karena kepala puyeng tidak karuan jadi tidak ada kepikiran untuk merokok, betuk-betul tidak ada timbul niat untuk merokok. 

Selang tiga hari pusing dikepala saya tidak juga kunjung hilang, kemudian saya kembali control dokter, ternyata tensi saya tinggi 150/80, saya dikasih obat lagi, tapi tidak diresepkan obat penurun tekanan darah. 

Selama tiga hari setelah kunjungan dokter yang kedua ini, saya mengalami kejadian aneh setiap harinya, dari bangun tidur hingga pukul 12 siang, kepala puyeng tidak karuan rasanya, setelah lewat pukul 12 siang, barulah agak enakan rasanya tidak puyeng lagi.


Dan selama tiga hari tersebut saya tetap tidak merokok, karena memang tidak ada keinginan untuk merokok, gejala pusingnya juga sama seperti hari-hari sebelumnya, pusing mulai dari bangun tidur kemudian reda setelah lewat jam 12 siang. 

Jika ditotal sudah ada satu minggu saya tidak menghisap rokok, karena sudah satu minggu minum obat maag dan tidak ada perubahan sama sekali, saya control ke puskesmas padahal sebelumnya saya control ke UGD rumah sakit. 

Di puskesmas saya diperiksa tensi, ternyata masih tinggi 140/80, diberi obat maag lagi kemudian obat penurun tensi amlodipin, yang harus diminum ketika mau tidur, pada control ketiga ini dokter memeriksa hidung saya dan menemukan pembengkakan di dalam hidung, saya dan dokter sepakat akan dirujuk ke THT setelah menghabiskan obat yang diberikan pada control ketiga ini. 

Selama menjalani perawatan dirumah pada control ketiga ini, barulah kepala agak enakan, pusingnya mulai berkurang, barangkali karena sudah minum obat penurun tensi juga, nah pada hari ke tujuh ini saya merokok lagi, satu batang sehari, niatnya sih untuk memulihkan kondisi tubuh yang amburadul setelah satu minggu lalu. 

Setelah habis resep yang diberikan pada control ke tiga, saya dirujuk ke THT, di ruang periksa THT dokter menyuruh saya untuk foto rontgen, setelah di foto hasilnya dibacakan dokter, terdapat pembengkakan dalam hidung yang disinyalir sebagai sinusitis maxilaris kronik. 

Keputusannya ; pada rongga hidung sebelah kiri saya terdapat lender yang cukup banyak, sehingga menimbulkan pembengkakan, dan sepertinya rongga hidung sebelah kanan juga sebentar lagi akan membengkak, maka dari itu satu minggu berikutnya saya harus operasi penyedotan sinus. 

Sembari menunggu selama satu minggu menjelang operasi, saya masih merokok, namun intensitasnya tidak sampai berbungkus perhari, pada saat inilah saya memutuskan untuk berhenti merokok, dengan cara mengurangi hari perhari. 

Mengurangi jumlah rokok hari perhari ini terasa sangat dilema, dalam hati kecil saya berniat untuk berhenti total, nah pada saat niat berhenti total ini, sisa rokok yang masih banyak saya berikan kepada kawan-kawan. 

Sialnya setelah satu hari kemudian saya tidak merokok, keinginan merokok saya bertambah kuat, akhirnya saya beli lagi satu bungkus sampoerna kecil, saya hisap lagi, dalam sehari ada sekitar tiga batang saja. 

Anehnya setelah menghisap rokok timbul lagi perasaan menyesal dan bersalah saya, karena keinginan saya berubah untuk berhenti merokok total, tidak dengan menguranginya. ketika perasaan bersalah ini muncul, saya gratiskan lagi itu rokok sama tetangga dan teman-teman. 

Pada tanggal 13 maret 2018 saya operasi sinusitis maxilaris kronik, nah setelah operasi inilah saya membulatkan tekad untuk berhenti total dari merokok. 

Selama masa penyembuhan pasca operasi, setiap hari saya merasa pusing, pusing yang sebenarnya bukan sakit kepala, tapi pusing, dan pusing ini terjadi sepanjang hari, dari pagi sampai malam, hanya ketika tidur saja saya tidak merasakan pusing, pusing ini diiringi dengan nyeri dada, nyerinya berpindah-pindah. 

Merasa stress dengan kondisi pusing pasca operasi, akhirnya saya Tanya sana sini dampai gugling segala, bagaimana cara mengatasi pusing yang tidak karuan ini, dari beberapa teman saya mendapatkan saran untuk merokok kembali, ada juga yang menyarankan saya untuk makan jambu air, untuk jambu air ini agak sulit saya dapatkan karena pada saat itu tidak musimnya jambu air berbuah. 

Akhirnya solusi merokok kembali ini saya tempuh, saya merokok lagi, namun ternyata merokok tidak membuat kepala saya semakin baik, yang ada malah semakin pusing, meski demikian saya tetap merokok terus. 

Pada akhirnya setelah saya gugling dan ketemu diskusi tentang berhenti merokok di kaskus, barulah saya sadar, ternyata sebelum ini saya mengalami suatu kondisi komplikasi pasca operasi sinusitis dan berhenti merokok, lengkap sekali rasanya penderitaan. 

Berhenti merokok secara total ini didalam istilah disebut dengan metode “Cold turkey”, jadi jika sebelumnya kita sudah berhenti merokok namun dalam perjalanannya masih ada rokok yang dihisap meski itu satu hisap saja, maka dengan demikian anda disebut belum berhenti merokok. 

Oleh karena itu karena sebelumnya saya masih menghisap rokok satu atau dua batang, ternyata saya termasuk orang yang belum berhenti merokok, maka dari itu tepat tanggal 30 maret 2018, saya menetapkan sebagai hari dimana saya berhenti menghisap rokok secara total. 

Artinya saya harus mengulang lagi perjuangan berhenti merokok, dan melalui kembali hari-hari yang menyakitkan karena berhenti merokok, akibatnya nikotin diputus secara drastic. 

Saya mengalami lagi pusing yang tidak karuan, nyeri ulu hati dan dada yang terus menerus, nyeri lengan dan kaki, dan yang paling seram adalah kondisi psikologis saya yang semakin terpuruk. 

Bulan april 2018 merupakan hari-hari yang kembali menyiksa, dan saya merasakan lebih buruk dari hari-hari sebelumnya, tidak banyak yang saya kerjakan karena kerja keras sedikit kepala langsung pusing, setiap hari ada saja keluhan, kalau bukan kepala yang pusing maka perut yang bermasalah (nyeri dada dan ulu hati).
Kejadian Sebelum Saya Berhenti Merokok Secara Autodidak
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Note: only a member of this blog may post a comment.