Berhenti Merokok Secara Autodidak

Berhenti Merokok Secara Autodidak

Ketika saya mengetik artikel ini saya sedang berjuang segenap jiwa dan raga, untuk tidak mengetiknya sambil merokok, sebagaimana kebiasaan saya ketika masih merokok, dengan tangan gemetar dan pikiran pusing melayang (Efek “sakau” nikotin) semoga tulisan ini selesai sampai akhir. 

Sekitar tanggal 13 Februari 2018 yang lalu, moment pertama yang ajaib tanpa disengaja menjadi semacam petaka yang baik untuk saya, terkait dengan berhenti merokok secara autodidak ini. 

Pada saat itu tepat pukul 12 siang WITA saya merasakan gejala meriang dari belakang punggung naik hingga kepala, lalu tidak lama setelah itu kepala saya langsung pusing, kemudian sebentar saya bawa duduk dan berfikir, barangkali karena saya belum makan, seketika itu juga saya ambil nasi dan lauk kemudian saya makan. 

Setelah makan ternyata pusing kepala saya semakin menjadi, akhirnya saya pergi periksa ke UGD RS Hikmah Sejahtera, disana diukur tensi hasilnya 140/80, kata dokter yang menangani tensi saya tinggi, kemudian saya katakan keluhan yang baru saya alami, dokter menyimpulkan itu gejala maag, lalu diberi obat kemudian saya pulang. 

Pada hari itu saya masing mengantongi rokok sampoerna mild berisi sekitar 13 batang, karena kepala pusing akhirnya rokok tersebut tidak saya hisap sampai malam. 

Melalui peristiwa hipertensi dan vonis maag ini lah langkah panjang pertama saya memulai berhenti merokok secara autodidak. 

Sepanjang waktu kepala saya selalu pusing pikiran melayang tidak menentu, dan yang paling jelas saya dihantui perasaan takut yang tidak terhingga, berbagai bayangan penyakit berbahaya setiap saat terlintas, dengan demikian, semenjak hari itu apapun aktifitas yang setiap hari saya lakukan terhenti total, karena kepala pusing dan pikiran dihantui rasa cemas. 

Keesokan harinya, pada waktu subuh badan saya semakin tidak enak rasanya, keringat dingin muka pucat, dan kepala semakin menjadi jadi pusingnya, satu hari penuh pada hari kedua tersebut saya tidak menyentuh rokok sama sekali, keinginan tidak merokok pada hari itu memang murni Karen kondisi badan saya yang tidak karuan. 

Padahal tidak setitikpun terlintas dalam pikiran saya bahwa saya berhenti merokok pada waktu itu, maka dari itu saya menyebut istilah ini dengan petaka yang baik, artinya tanpa saya rencanakan malang yang menimpa pada diri saya, secara tidak langsung menjadi bagian tahap demi tahap saya berhenti merokok secara autodidak. 

Saya anggap hari tersebut adalah hari kedua saya tidak merokok, pada akhirnya hari kedua tersebut saya jalani dengan kebingungan, Karena memang saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, bahkan pekerjaan rumah yang biasa rutin saya lakukan, tidak terpikirkan sama sekali, saya hanya duduk termenung bersandar dijendela, lalu kemudian bersandar dipintu, lalu kemudian duduk diteras dengan pandangan menerawang. 

Kesimpulannya hari kedua itu adalah hari saya merasa mulai menjadi gila, dan saya masih harus menjalani hari-hari gila berikutnya. 

Maka dari itu sahabat pembaca tulisan tentang berhenti merokok secara autodidak ini, tidak akan berakhir pada artikel ini saja, melainkan akan bersambung pada episode berikutnya, Karena saya sendiri sedang berusaha mengumpulkan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama saya berhenti autodidak. 

Harapan saya terhadap tulisan ini adalah, bagi sahabat pembaca yang ingin berhenti merokok, kita bisa berbagi kisah disini, betapa durjananya dampak rokok terhadap tubuh kita.

Tulisan-tulisan saya yang berhubungan dengan berhenti merokok bisa anda baca dibawah ini

Berhenti Merokok Secara Autodidak
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Note: only a member of this blog may post a comment.